PBENG Clause Samples

The PBENG clause typically refers to provisions related to performance bonds and engineering guarantees in contracts. It outlines the requirements for the contractor to provide a performance bond or similar security, ensuring that the project will be completed according to agreed specifications and timelines. For example, it may specify the amount, form, and duration of the bond, as well as the conditions under which it can be called upon by the client. The core function of this clause is to protect the client from financial loss if the contractor fails to fulfill their contractual obligations, thereby allocating risk and ensuring project completion.
PBENG. 1.05 Baseline format The requirements for the implementation of the privacy legislation are presented in the form of a standards framework. This standards framework is based on the ▇▇▇▇ method. The requirements are structured on the basis of a template in which the elements “who”, “what” and “why” are addressed. In principle, an answer is given to the question: "who does what and why?". *** Tabelletje invoegen A conformity indicator is a (sub) standard that must be met in order to meet the criterion (the main standard). Conformity indicators in the text of the main standard take the form of a keyword that identifies the sub standard. You can say that every underlined keyword is defined and elaborated in the form of measures. For each conformity indicator, one or more measures (/ 01, / 02, etc.) are formulated, on the basis of which a statement is possible on the relevant conformity indicator. In many cases, the explanatory notes to the framework provide further explanation of the measures.
PBENG. U Execution domain PBENG-U.T1 Objective PBENG-U.T2 Risk
PBENG. 1.01 Process personal data yourself or outsource After we have determined that we have to process personal data to achieve a certain objective, we must also determine whether we do so in the role of controller or processor. A controller has to determine the purpose and means for the relevant processing (s) of personal data; a processor processes personal data on behalf of or for the benefit of a controller. These roles can coincide; an organization may also choose not to process (certain) personal data itself (including the choice not to collect and store (certain) personal data). When outsourcing the processing or when processing personal data from another party, agreements must be made between the controller and the processor. These agreements can be recorded in a contract which we will call the 'Data Processing Agreement' in this Privacy Baseline. This is a common, but not official term from the GDPR. The agreements may also follow from another legal act under Union law or Member State law. It is important that, among other things, responsibilities are appointed, for example with is accountable and where data subject can find a contact point with regard to processing. When exchanging data between two controllers, it is also advisable to include details in which the parties agree on the sharing of data, for example that the sharing of the data is lawful and takes place safely. There must always be a valid basis for the processing of the personal data: of course this also applies to processing for a different purpose. The receiving party is responsible for the technical and organizational measures necessary for the security of the data.
PBENG. 1 Principle of the GDPR and the baseline
PBENG. U.01 Data Processing Purpose The basic principle of purpose limitation is that data are processed and collected for a specific, explicit and legitimate purposes. ‘Specific and explicit’ means that no data may be collected without a precise purpose description. The purpose must be determined before the collection is started. 'Specific' means that this description must be so clear, that it offers a framework during the collection process for testing whether the data is necessary for that purpose or not. The purpose may also not be formulated in the course of the collection process. ‘Explicit’ means that the controller should have defined the purpose of data collection.

Related to PBENG

  • Pendahuluan Pembangunan ekonomi merupakan salah satu tujuan penting yang hendak dicapai pemerintah dalam pembangunan nasional, pembangunan ekonomi ini merupakan upaya penting dalam rangka mencapai pemerataan kemakmuran ▇▇▇ kesejahteraan sesuai amanat Pancasila ▇▇▇ UUD 1945. Dalam rangka menciptakan sebuah proses pembangunan ekonomi yang berkesinambungan, maka pemerintah memerlukan himpunan ▇▇▇▇ ▇▇▇▇ sangat besar. Dimana ▇▇▇▇ tersebut diperoleh melalui pemasukkan negara berupa ▇▇▇▇▇ ▇▇▇ non ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇ digunakan untuk mengelola perekonomian negara. Salah satu ▇▇▇▇▇ penting yang berkontribusi dalam menjalankan roda perekonomian negara adalah lembaga bank. Dimana bank mempunyai 2 fungsi, yakni pertama untuk menghimpun ▇▇▇▇ dari masyarakat atau secara sederhana dapat diartikan bank sebagai lembaga yang menyediakan jasa penyimpanan uang milik masyarakat dengan pemberian bunga tertentu dalam jangka waktu tertentu sebagai kontraprestasi. Kedua, Bank mempunyai fungsi utama menyalurkan ▇▇▇▇ kepada masyarakat, dimana fungsi ini bertolakbelakang dengan fungsi yang pertama, yakni fungsi ini dilaksanakan melalui pendistribusikan uang yang dihimpun masyarakat dalam bentuk Investasi, Kredit tanpa agunan, Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Mobil, ▇▇▇ ▇▇▇▇ sebagainya.1 Terkait dengan fungsi bank yang kedua ini, tujuan utamanya ialah memfasilitasi masyarakat dalam pencapaian kesejahteraan ▇▇▇ membentuk usaha yang berkontribusi dalam pembangunan nasional. Penegasan secara yuridis mengenai fungsi bank yang kedua tersebut dapat ditemukan dalam Pasal 3 jo Pasal 6 huruf b ▇▇▇ Pasal 13 huruf b Undang- Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan yang berbunyi,”Bank sebagai penghimpun ▇▇▇ penyalur ▇▇▇▇ masyarakat, ▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇ satu usahanya adalah memberikan kredit. Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan, terjadi perubahan besar-besaran terhadap sistem ▇▇▇ metode penjamin atas suatu utang. Sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tersebut, berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Barat, bank yang memberikan fasilitas kridit hanya mewajibkan debiturnya untuk mendatangani Akta Surat Kuasa Memasang Hipotek yang dibuat didepan notaris agar dapat menjamin perlunasan utang ▇▇▇/atau kewajiban debitur tersebut. Jadi, dalam hal si debitur mulai lalai atau dengan kata lain bank sudah melihat gelagat bahwa debitur tersebut mulai macet atau kondisi keuangannya sudah tidak memungkinkan untuk mengembalikan fasilitas kredit yang diterimanya, maka bank akan “memasang” atau dengan kata lain mendaftarkan Akta Hipotek tersebut ▇▇ ▇▇▇▇▇▇ pertanahan setempat. Setelah terdaftar, bank dapat menjual lelang rumah ▇▇▇/atau tanah tersebut untuk melunasi kewajiban debitur dimaksud. Pemakaian jaminan berupa jaminan fidusia sendiri secara khusus dimaksudkan untuk memberikan kesempatan bagi debitur untuk tetap menggunakan ▇▇▇▇▇-▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇ pada dasarnya sudah dijaminkan kepada kreditur, dimana dikhawatirkan ▇▇▇▇▇-▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇ dijaminkan tersebut bersifat krusial bagi kelangsungan usaha debitur. Maka melalui model jaminan fidusia debitur dapat melakukan perjanjian hutang dengan tetap menguasai ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇ dijaminkan pada perjanjian hutang tersebut. Meskipun demikian, tidak jarang penggunaan model jaminan fidusia ini justru disalahgunakan oleh debitur yang tidak baik. Kelebihan fidusia yang memberikan debitur kuasa untuk tetap menguasai objek jaminan di ▇▇▇▇ ▇▇▇▇ juga memberikan peluang bagi dicederainya perjanjian ▇▇▇ timbulnya wanprestasi oleh debitur di masa depan. 1 Widiyono, Try. Agunan Kredit dalam Financial Engineering. (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2009), hal. 102 Dalam praktiknya, tidak jarang permasalahan kredit macet dialami oleh bank ▇▇▇ lembaga pembiayaan yang memberikan jasa ▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇ pembiayaan. Salah satu penyebab kredit macet sendiri ialah terjadinya pengalihan objek jaminan fidusia oleh debitur kepada pihak ketiga. Dimana pasca pengalihan tersebut debitur lalai ▇▇▇ merasa lepas dari kewajibannya karena objek jaminan tetah beralih kepada pihak ketiga. dari fenomena tersebut kemudian muncul permasalahan yang lebih khusus, yakni bagaimana debitur dapat menyelesaikan permasalahan kredit ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇ disebabkan oleh dialihkannya objek jaminan fidusia oleh debitur kepada pihak ketiga. hal ini menjadikan permasalahan sedikit ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ ketika debitur wanprestasi, maka timbul pertanyaan bahwasanya eksekusi yang dilakukan akan menggunakan mekanisme seperti apa, karena objek jaminan fidusia sendiri sudah beralih tangan dari debitur kepada pihak ketiga. Lebih lanjut, permasalahan menjadi semakin ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ akibat adanya pengalihan objek jaminan oleh debitur ▇▇▇ pihak ketiga tersebut (baik melalui jual beli, sewa, atau lainnya) maka akan terjadi persinggungan hak antara pihak ketiga selaku penguasa objek dengan kreditur selaku pemilik sah objek tersebut.2 Hubungan antara bank dengan nasabah merupakan hubungan yang dilandasi asas kepercayaan. Masyarakat menyimpan dananya di bank, karena percaya bahwa dananya ▇▇▇▇ ▇▇▇ dapat diambil kembali sewaktu-waktu tanpa mengalami kesulitan. Aspek kepercayaan juga merupakan landasan hubungan bank dengan debitur. Hubungan antara bank ▇▇▇ nasabah debitur juga bersifat sebagai hubungan kepercayaan yang membedahkan kewajiban-kewajiban kepercayaan bank kepada nasabahnya. Perjanjian yang merupakan perikatan antara kreditur dengan dibitur atau pihak ketiga yang isinya menjamin pelunasan utang yang timbul dari pemberian kredit. Sifat perjanjian jaminan ini lazimnya dikonstruksikan sebagai perjanjian accessoir, yaitu senantiasa merupakan perjanjian yang dikaitkan dengan perjanjian pokok, mengabdi pada perjanjian perjanjian pokok. Tanah merupakan jaminan untuk pembayaran utang yang paling disukai oleh lembaga keuangan untuk fasilitas kredit. Sebab tanah, pada umumnya mudah dijual (marketable), harganya terus meningkat, mempunyai tanda bukti hak, sulit digelapkan ▇▇▇ dapat dibebani dengan hak tanggungan yang memberikan hak istimewa pada kreditur. Bagi masyarakat, perorangan atau badan ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇ berusaha meningkatkan kebutuhan konsumtif atau produktif sangat membutuhkan pendanaan dari bank sebagai salah satu sumber ▇▇▇▇ dalam bentuk perkreditan, agar mampu mencukupi untuk mendukung peningkatan usahanya. Mengingat pentingnya kedudukan ▇▇▇▇ perkreditan dalam proses pembangunan, sudah semestinya jika pemberi ▇▇▇ penerima kredit serta pihak ▇▇▇▇ ▇▇▇▇ terkait mendapat perlindungan melalui lembaga hak jaminan agar dapat memberikan kepastian hukum bagi semua pihak yang berkepentingan sebagai upaya mengantisipasi timbulnya resiko bagi kreditur pada ▇▇▇▇ ▇▇▇▇ akan datang. Untuk usaha tersebut dapat menggunakan jasa perbankan. Penyaluran ▇▇▇▇ pinjaman berupa kredit dilakukan oleh bank selaku lembaga perantara keuangan kepada masyarakat yang membutuhkan modal selalu dituangkan dalam perjanjian sebagai landasan hubungan hukum diantara para pihak (▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇ debitor). Adanya perjanjian pinjam meminjam uang tersebut, maka mutlak diperlukan solusi hukum bagi lembaga jaminan agar memberikan kepastian bagi pengembalian pinjaman tersebut. Keberadaan lembaga jaminan sangat diperlukan, karena dapat memberikan kepastian ▇▇▇ perlindungan hukum bagi penyedia ▇▇▇▇ (▇▇▇▇▇▇▇▇) ▇▇▇ penerima pinjaman (debitor). Jaminan umum kurang menguntungkan bagi kreditor, maka diperlukan penyerahan harta kekayaan tertentu untuk diikat secara khusus sebagai jaminan pelunasan utang debitor, sehingga kreditor yang bersangkutan mempunyai kedudukan yang diutamakan atau 2 Sutarno, Aspek-aspek Hukum Perkreditan pada Bank. Bandung: Alfabeta, 2009 ▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇ daripada ▇▇▇▇▇▇▇▇-▇▇▇▇▇▇▇▇ lain dalam pelunasan utangnya. Jaminan yang seperti ini memberikan perlindungan kepada ▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇ didalam perjanjian akan diterangkan mengenai hal ini. Jaminan khusus memberikan kedudukan mendahului (preferen) bagi pemegangnya. Sehingga bank selalu meminta jaminan khusus tersebut pada setiap pemberian kredit.3 ▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇ dalam buku Tan Kamelo mengemukakan sejumlah asas asas hukum jaminan yang objeknya ▇▇▇▇▇ adalah Pertama, asas hak kebendaan (real right), Kedua, asas asesor, Ketiga, ▇▇▇ ▇▇▇▇ didahulukan, Keempat, objeknya adalah ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇ tidak bergerak, Kelima, asas asesi, Keenam, asas pemisahan horisontal, Ketujuh, asas terbuka, Kedelapan, asas spesifikasi / pertelaan, Kesembilan, asas mudah dieksekusi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kekuatan hukum Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan sebagai dasar pembebanan hak tanggungan dalam perjanjian kredit serta untuk mengetahui faktor faktor yang menjadi kendala dalam mendaftarkan Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT) sebagai dasar pembebanan hak tanggungan dalam perjanjian kredit. Pada praktik perbankan untuk lebih mengamankan ▇▇▇▇ ▇▇▇▇ disalurkan kreditor diperlukan tambahan pengamanan berupa jaminan khusus berupa jaminan kebendaan yaitu tanah. Penggunaan tanah sebagai jaminan kredit, didasarkan pada pertimbangan ▇▇▇▇ ▇▇▇ mempunyai nilai ekonomis yang relatif tinggi. Lembaga jaminan oleh lembaga perbankan dianggap paling efektif ▇▇▇ ▇▇▇▇ adalah tanah dengan jaminan hak tanggungan. Berdasarkan fenomena di atas, yang menjadi persoalan yakni nasabah (debitor) yang telah melakukan pinjaman kredit di bank dengan jaminan hak tanggungan telah menjual agunan di bawah tangan kepada pihak ketiga (pembeli) tanpa sepengetahuan pihak bank, sehingga adanya wanprestasi yang terjadi. Hal ini terjadi dalam masyarakat, sehingga dampak yang dilakukan oleh nasabah tersebut telah merugikan pihak bank selaku pemegang hak tanggungan atas perikatan yang telah dilakukan. Hal ini didasarkan pada adanya kemudahan dalam mengidentifikasi objek hak tanggungan, jelas ▇▇▇ ▇▇▇▇▇ eksekusinya, disamping itu hutang yang dijamin dengan hak tanggungan harus dibayar terlebih dahulu dari tagihan lainnya dengan uang hasil pelelangan tanah yang menjadi objek hak tanggungan memang ▇▇▇ ▇▇▇▇ tidak diabaikan dalam perjanjian kredit adalah perlindungan hukum bagi kreditor manakala debitor wanprestasi, apalagi jika debitor mengalami kemacetan dalam pembayarannya. Pemanfaatan lembaga eksekusi hak tanggungan merupakan cara percepatan pelunasan piutang agar ▇▇▇▇ ▇▇▇▇ telah dikeluarkan itu dapat segera kembali kepada bank (kreditor), ▇▇▇ ▇▇▇▇ tersebut dapat digunakan lagi dalam perputaran roda perekonomian. Untuk itu, ada kemudahan yang disediakan oleh Undang-Undang Hak Tanggungan (selanjutnya disebut UUHT) bagi para kreditor pemegang hak tanggungan, manakala debitor wanprestasi, sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 20 ayat (1) huruf (a) ▇▇▇ (b) UUHT menyebutkan eksekusi atas ▇▇▇▇▇ jaminan hak tanggungan dapat ditempuh atas 3 (tiga) cara yakni (1) ▇▇▇▇▇▇ executie; (2) title executorial; ▇▇▇ (3) penjualan di bawah tangan. Ketiga eksekusi hak tanggungan masing-masing memiliki perbedaan dalam prosedur pelaksanaannya. Untuk eksekusi yang menggunakan title executorial berdasarkan sertifikat hak tanggungan (sebelum menggunakan Grosse Akta Hipotek), dimana pelaksanaan penjualan ▇▇▇▇▇ jaminan tunduk ▇▇▇ patuh terhadap hukum acara perdata sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 224 H.I.R/258 RBg. Sedangkan eksekusi yang dilakukan dibawah tangan pelaksanaan harus memenuhi

  • CUKAI Jualan hartanah tersebut akan dikenakan cukai berdasarkan mana-mana Akta terkini atau selepasnya yang dikuatkuasa oleh Kerajaan Malaysia yang mana berkenaan. Sebarang tunggakan caj perkhidmatan atau penyelenggaraan tanpa faedah penalti lewat (jika ada) yang tertunggak ▇▇▇ perlu dibayar kepada mana-mana pihak berkuasa yang berkenaan ▇▇▇/atau pihak Pemaju akan ditanggung oleh pihak Pemegang ▇▇▇▇▇ ▇▇▇/Pemberi Pinjaman setakat tarikh jualan lelongan hartanah tersebut (tertakluk kepada maksimum 10% daripada harga rizab) yang akan dibayar daripada harga pembelian, dengan syarat bahawa Pemegang ▇▇▇▇▇ ▇▇▇/Pemberi Pinjaman menerima ▇▇▇ ▇▇▇▇ terperinci untuk caj perkhidmatan penyelenggaraan ▇▇▇ penyata akaun yang dikeluarkan oleh pihak berkuasa ▇▇▇/atau pemaju yang berkaitan daripada Pembeli dalam tempoh sembilan puluh (90) hari dari tarikh jualan ▇▇▇ jika gagal pembeli tidak akan layak untuk apa-apa pembayaran, ▇▇▇ sebarang jumlah tertunggak yang perlu dibayar selepas tarikh jualan lelongan hartanah tersebut hendaklah ditanggung oleh pembeli.

  • LOKASI ▇▇▇ KETERANGAN HARTANAH Hartanah tersebut adalah terletak di tingkat 6 Pangsapuri Mesra Ria. Hartanah tersebut adalah pangsapuri kos rendah 3 ▇▇▇▇▇ tidur pertengahan dikenali sebagai ▇▇▇▇▇ Pemaju No. A-06-06, Tingkat No 06, Bangunan No A, Pandan Mesra ▇▇▇ beralamat pos di No. 06-06, Pangsapuri Mesra Ria, ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇ ▇▇▇▇, ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇, ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇, ▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇. (“Hartanah”) Hartanah ini akan dijual keadaan “sepertimana sedia ada” tertakluk kepada satu harga rizab sebanyak RM150,000.00 (RINGGIT MALAYSIA SATU RATUS ▇▇▇ ▇▇▇▇ PULUH RIBU SAHAJA), mengikut kepada Syarat-syarat Jualan di sini dengan cara Penyerahan Hak dari Pemegang Serahhak ▇▇▇ tertakluk kepada Pembeli memperoleh pengesahan / kebenaran yang diperlukan daripada Pemaju ▇▇▇/atau Pemilik Tanah ▇▇▇/atau Pihak Berkuasa Negeri ▇▇▇/atau badan-badan yang relevan (jika ada). Semua penawar yang ingin membuat tawaran adalah dikehendaki membayar deposit sebanyak 10% daripada harga rizab (“deposit pendahuluan”) secara bank draf atau kasyier order dipalang “AKAUN PENERIMA SAHAJA” atas nama HONG ▇▇▇▇▇ BANK BERHAD / ▇▇▇ ▇▇▇ ▇▇▇▇ & ▇▇▇▇ ▇▇▇ MEE @ ▇▇▇▇ NYUIK THAI atau melalui pemindahan perbankan atas talian yang ditentukan oleh pelelong, sekurang-kurangnya SATU (1) HARI BEKERJA SEBELUM TARIKH LELONGAN ▇▇▇ membayar perbezaan di antara deposit pendahuluan ▇▇▇ jumlah bersamaan 10% daripada harga berjaya tawaran sama ada dengan bank draf atau kasyier order dipalang “AKAUN PENERIMA SAHAJA” atas nama ▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇ BANK BERHAD / ▇▇▇ ▇▇▇ ▇▇▇▇ & ▇▇▇▇ ▇▇▇ MEE @ ▇▇▇▇ NYUIK THAI atau melalui pemindahan perbankan atas talian dalam masa TIGA (3) HARI BEKERJA sebaik sahaja ketukan tukul oleh Pelelong dibuat. Deposit ▇▇▇▇ ▇▇▇ jumlah perbezaan secara dikumpul dikenali sebagai “deposit”. Hari Bekerja bermaksud hari (tidak termasuk Sabtu, Ahad ▇▇▇ ▇▇▇▇ Umum) di mana Pihak Pemegang Serahhak dibuka untuk perniagaan di Kuala Lumpur Baki harga belian sepenuhnya hendaklah dibayar dalam tempoh sembilan puluh (90) hari dari tarikh jualan lelongan kepada HONG ▇▇▇▇▇ BANK BERHAD. ▇▇▇▇ rujuk Terma & Syarat Dalam Talian Pelelong di ▇▇▇.▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇.▇▇▇ untuk ▇▇▇▇-▇▇▇▇ pembayaran deposit. Untuk butir-butir lanjut, ▇▇▇▇ berhubung dengan Tetuan ▇▇▇ ▇▇▇▇ & Co., Peguamcara bagi Pihak Pemegang Serahhak di ▇-▇, ▇▇▇▇▇ ▇▇▇ ▇/▇, ▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇, ▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇, ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇, ▇▇▇▇▇▇▇▇. (Ref No.: 51303.23, Tel No.: ▇▇-▇▇▇▇▇▇▇▇, Fax No.: ▇▇-▇▇▇▇▇▇▇▇) atau Pelelong yang tersebut di bawah ini:- Suite C-20-3A, Level 20, Block C, Megan Avenue II, / ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇ BIN ▇▇▇▇▇▇ ▇▇, ▇▇▇▇▇ ▇▇▇ ▇▇▇▇ ▇▇▇▇, 50450 Kuala Lumpur. (Pelelong Berlesen) Tel No : ▇▇-▇▇▇▇ ▇▇▇▇ Fax No: ▇▇-▇▇▇▇ ▇▇▇▇ Ruj. Kami: ALIN/HLBB1604/WCC Ruj Bank : ▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇ Web: ▇▇▇.▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇.▇▇▇ E-mail : ▇▇▇▇▇▇@▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇.▇▇▇

  • meminta nasihat daripada Pihak ▇▇▇▇▇▇ dalam semua perkara berkenaan dengan jualan lelongan, termasuk Syarat-syarat Jualan (iii) membuat carian Hakmilik ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ rasmi di Pejabat Tanah ▇▇▇/atau ▇▇▇▇-▇▇▇▇ Pihak-pihak Berkuasa yang berkenaan ▇▇▇ (iv) membuat pertanyaan dengan Pihak Berkuasa yang berkenaan samada jualan ini terbuka kepada semua bangsa atau kaum Bumiputra Warganegara Malaysia sahaja atau melayu sahaja ▇▇▇ juga mengenai persetujuan untuk jualan ini sebelum jualan lelong.Penawar yang berjaya ("Pembeli") dikehendaki dengan segera memohon ▇▇▇ mendapatkan kebenaran pindahmilik (jika ada) daripada Pihak Pemaju ▇▇▇/atau Pihak Tuanpunya ▇▇▇/atau Pihak Berkuasa Negeri atau badan-badan berkenaan (v) memeriksa ▇▇▇ memastikan samada jualan ini dikenakan cukai. HAKMILIK : Hakmilik strata bagi hartanah ini masih belum dikeluarkan HAKMILIK INDUK / NO. LOT : Pajakan Negeri 35263, Lot No.29096 MUKIM/DAERAH/NEGERI : Setapak / Kuala Lumpur / Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur PEGANGAN : Pajakan selama 82-tahun berakhir pada 08/08/2085 KELUASAN LANTAI : 81.104 meter persegi ( 873 kaki persegi ) PEMAJU/PENJUAL : Mega Planner Jaya Sdn Bhd (326287-W)(Dalam Likuidasi) TUANPUNYA : Datuk Bandar Kuala Lumpur PEMBELI : ▇▇▇▇▇▇▇▇ Bin ▇▇▇▇▇ @ ▇▇▇▇ BEBANAN : Diserahhak kepada RHB Bank Berhad [196501000373 (6171-M)] Hartanah tersebut terletak di tingkat 9 pada bangunan apartment 14-tingkat terletak di Melati Impian Apartment, Setapak Fasa 1, Kuala Lumpur. Hartanah tersebut adalah sebuah unit apartment 3 ▇▇▇▇▇ dikenali sebaga ▇▇▇▇▇ Pemaju No. 9, Tingkat No.9, Pembangunan dikenali sebagai Melati Impian Apartment Setapak Fasa 1, Kuala Lumpur ▇▇▇ mempunyai alamat surat-▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇ ▇▇▇▇ ▇▇. ▇-▇, ▇▇▇▇▇▇ Impian Apartment, ▇▇▇▇▇ ▇/▇▇▇, ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇, ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇, ▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇. Harta ini dijual “keadaan seperti mana sediada” dengan harga rizab sebanyak RM 300,000.00 (RINGGIT MALAYSIA: TIGA RATUS RIBU SAHAJA) ▇▇▇ tertakluk kepada syarat-syarat Jualan ▇▇▇ melalui penyerahan hakkan dari Pemegang Serahak, tertakluk kepada kelulusan di perolehi oleh pihak Pembeli daripada pihak berkuasa, jika ada, termasuk semua terma, syarat ▇▇▇ perjanjian yang dikenakan ▇▇▇ mungkin dikenakan oleh Pihak Berkuasa yang berkenaan. Pembeli bertanggungjawab sepenuhnya untuk memperolehi ▇▇▇ mematuhi syarat-syarat berkenaan daripada Pihak Berkuasa yang berkenaan, jika ada ▇▇▇ semua ▇▇▇ ▇▇▇ perbelanjaan ditanggung ▇▇▇ dibayar oleh ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇.Pembeli atas talian (online) juga tertakluk kepada terma-terma ▇▇▇ syarat-syarat terkandung dalam ▇▇▇.▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇.▇▇▇ Pembeli yang berminat adalah dikehendaki mendeposit kepada Pelelong 10% daripada harga rizab dalam bentuk Bank Draf atau Cashier’s Order di atas nama RHB Bank Berhad sebelum lelongan awam ▇▇▇ ▇▇▇▇ ▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ hendaklah dibayar dalam tempoh sembilan puluh (90) hari dari tarikh lelongan kepada RHB Bank Berhad melalui Bank Draf / ▇▇▇▇▇▇. Butir-butir pembayaran melalui ▇▇▇▇▇▇, ▇▇▇▇ berhubung dengan Tetuan Zahrin Emrad & Sujaihah. Untuk maklumat lanjut, ▇▇▇▇ berhubung dengan TETUAN ZAHRIN EMRAD & SUJIAHAH, yang beralamat di Suite 10.3, 10th Floor, ▇▇▇ ▇▇▇▇ Building, ▇▇.▇▇, ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇, ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇. Tel: ▇▇-▇▇▇▇ ▇▇▇▇ / Fax: ▇▇-▇▇▇▇ ▇▇▇▇. [ Ruj: ZES/ZHR/RHB-FC/16250-17/0614-pae ], peguamcara bagi pihak pemegang ▇▇▇▇▇ ▇▇▇ atau pelelong yang tersebut dibawah.

  • LTD by its duly appointed Attorneys who state they have no notice of revocation of the Power of Attorney dated 5 February 1990 under which this Agreement is signed. ) ) ) ) ) ) )